Senin, 30 Juli 2018

Sruput Kopi Kintamani di Seniman Coffee Studio


Kopi hitam,-Bagi pecinta kopi menikmatinya maka sudah menjadi keharusan mensruputnya tanpa mengenal waktu, tempat dan lokasi.  Begitu juga dengan kami yang secara kebetulan tengah melancong ke Ubud, Bali.

Kami layaknya seorang pemburu yang tengah mencari mangsa berupa kopi khas. Dan pada akhirnya pilihan jatuh pada Seniman Coffee Studio, yakni salah satu kedai kopi yang terletak di jalan raya Ubud, Bali.

Sore hari tepatnya saat hujan belum benar-benar reda, kami nekat meluncur. Setibanya, kedai kopi ini telah disesaki sejumlah wisatawan asing.  Meski demikian, kehadiran kami tetap mendapat sambutan ramah dan mempersilakan untuk memilih tempat duduk.

Kami memilih tempat  yang menghadap jalan raya memang. Alasan utama ialah tempat terasa lebih nikmat jika menghisap rokok dan yang tak kalah penting terlihat tak terlalu sumpek dengan padatnya pengujung. Dengan begitu akan terasa lebih nyaman apalagi dengan tempat duduk yang sebenarnya sama saja dengan tempat duduk pada umumnya terbuat dari plastik cuma bagian kaki bangku terapat lengkungan kayu jadi mirip kursi goyang. Jadi ngopi kian santai dengan goyangan kursi.


Seorang datang dengan membawakan secarik kertas berupa catatan menu. Ia menjelaskan beragam jenis menu yang dapat dinikmati termasuk kopi. Menurunya, semua kopi yang ada disini merupakan hasil racikan sendiri dari biji kopi, proses sangrai hingga penggilingan.


Untuk proses sanggrai dan penggilingan tepat di hadapan hanya terhalang jalan raya.  Kami pun saling berhadapan dengan proses dari biji kopi hingga menjadi bubuk yang siap diracik. Ia pun menawarkan jika ingin melihat langsung bagaimana biji kopi diolah.

Penjelasan secara rinci dan hampir setiap pertayaan dijawab penuh senyuman menambah plus kedai kopi ini. Ia menambahkan,  biji kopi yang siap disajikan terdapat beberapa macam varian dengan tingkat yang berbeda dan biasanya untuk orang Indonesia lebih menyukai premium dengan alasan lebih pahit.

Bagi saya secara pribadi jika mengunjungi sebuah wilayah maka pilihan utama adalah kopi khas daerah tersebut. Itulah alasan mengapa saya memilih kopi hitam dengan diracik tubruk khas Bali, yakni Kintamani.

Sementara itu,ia memilih kopi Latte dan saya sendiri sebagaimana yang sudah-sudah, pilihan jatuh pada kopi hitam dengan racikan tubruk.

Waktu terasa berjalan begitu lambat mungkin sudah tak sabar lagi untuk sruput kopi. Dalam penantian yang cukup panjang bagi orang yang sudah tak sabar ini, saya mencoba lebih memilih untuk mengamati sekitar tempat ini.

Seniman COffe Studio bisa dikatakan cukup unik, dari dua sepeda tua yang menggantung tepat di pintu masuk dan tak ketinggalan adalah cangkir yang seperti terbuat dari botol minuman yang .

Akhirnya tiba juga, secangkir kopi hitam kintamani dan kopi Latte. Saya yang sudah tak sabar menikmatnya pun langsung mencium kepulan asap.

Sruputan terus berlanjut, kopi ini terasa begitu sayang untuk ditinggilkan begitu saja.

Bagaimana rasa  kopi Kintamani dengan racikan para barista di Seniman Coffee Studio silakan langsung saja dirasakan apalagi jika teman-teman tengah berkunjung ke Ubud, Bali, Indonesia

Untuk lokasinya sangat mudah dijangkau,


Seniman Coffee Studio

Jalan Sriwedari No. 5 Ubud, Bali

80581 Indonesia

Selasa, 02 Mei 2017

Ngopi di Kedai Seni Djakarte

Sebagai orang yang mengklain dirinya adalah pemburu kopi hitam, jadi sudah sangat lumrah jika apa pun itu dikaitkan dengan kopi. 

Termasuk dalam hal yang satu ini, nongkrong sambil menikmati kopi, tanpa kopi tongkrongan terasa hampa, lebih baik nggak usah ngajak nongkrong.

Setidaknya itu syarat jika teman-teman ingin mengajak saya untuk nongkrong. Sebuah syarat yang cukup sederhana bukan? 

Syarat ini juga berlaku jika saya mengunjungi sebuah kefe atau kendai atau apa saja namanya, pilihan pertama saya kedai tersebut  menarkan kopi dan selanjutnya adalah tersedianya ruang bebas merokok.  

Jika tidak ada salah satu syarat yang saya ajukan maka sudah dapat dipastikan, saya akan menolak bersedia masuk dalam kafe tersebut, selaian tentunya perkara uang. Ini adalah yang utama.

Siang itu, saya merasa mahluk dari planet lain saat berkumpul dalam sebuah kedai  di Kota Tua, Jakarta. Kedai yang cukup populer juga dalam dunia google, Kedai Seni Djakarte.  Kedai ini cukup luas, namun tak akan cukup menampung seluruh pengunjung Kota Tua terutama pada hari libur.  

Saya yang merasa sebagai mahluk alien yang terjebak ke dalam kelompok pencinta makanan. Sajian dengan deretan nama-nama cukup aneh. Memang terdapat sejumlah nama yang masih umumlah didengar mahluk alien seperti saya. 

Kopi hitam menjadi menu pelihan saya, nggak usah dipertanyakan bagaimana tentang ulasan kopi tersebut. Saya tak akan pernah sanggup mengulasnya sebagaimana penulis kuliner. Kopi ini setidaknya dapat membantu saya agar tak terlihat begitu tersing. 

Perkara saya adalah alien atau bukan itu adalah perkara lainya. Hal yang meyesalkan bagi saya, yakni kedai ini tak cukup banyak menawarkan pilihan kopi.